LAPORAN PENDAHULUAN OBESITAS PADA ANAK
LAPORAN PENDAHULUAN
OBESITAS PADA ANAK
A. Pengertian
Obesitas adalah keadaan dimana seseorang memiliki berat badan yang lebih berat dibandingkan berat badan idealnya yang disebabkan terjadinya penumpukan lemak ditubuhnya ( Atikah Proverawati, 2010). Obesitas merupakan refleksi ketidak seimbangan antara konsumsi energy dan pengeluaran energi. Kelebihan penimbunan lemak diatas 20% berat badan ideal akan menimbulkan permasalahan klinik karena kemungkinan terjadinya gangguan fungsi organ (Rachmalia, Era Dian Fitri, 2012).
Menurut Word Health Organization (WHO) tahun 2014, secara umum obesitas adalah suatu kondisi abnormal yang ditandai oleh peningkatan lemak tubuh berlebihan, umumnya ditimbun dijaringan subkutan, sekitar organ, dan kadang terinfiltrasi ke dalam organ. Menurut sustika (2006) obesitas merupakan kondisi yang ditandai dengan gangguan keseimbangan energi tubuh, yaitu terjadi keseimbangan energi positif yang akhirnya disimpan dalam bentuk lemak dijaringan tubuh.
B. Klasifikasi
Menurut (Soetjiningsih & Ranuh, 2016), obesitas dibagi menjadi :
1. Obesitas sederhana (simple obesity)
Terhadap gejala kegemukan saja tanpa disertai kelainan hormonal atau mental atau fisik lainnya. Obesitas ini terjadi karena faktor nutrisi.
2. Bentuk khusus obesitas
a. Kelainan endokrin/hormonal, yang sering adalah sindrom cushing yang terjadi pada anak yang sensitive terhadap pengobatan dengan hormone steroid.
b. Kelainan somatodismorfik. Obesitas pada kelainan ini hampir selalu disertai retardasi mental dan kelainan ortopedi.
c. Kelainan hypothalamus, kelainan pada hipotalamus mempengaruhi nafsu makan dan berakibat obesitas. Kelainan dapat disebabkan oleh kraniofaringoma, leukemia serebral, trauma kepala, dll.
C. Manifestasi Klinis
Obesitas dapat terjadi pada usia berapa saja, tetapi yang tersering pada tahun pertama kegidupan, usia 5-6 tahun dan pada masa remaja
Gejala obesitas antara lain :
1) Anak terlihat lebih gemuk
2) Sering terjadi gangguan pernapasan dan sesak
Penimbunan lemak yang berlebihan didalam diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru-paru sehingga timbul gangguan pernapasan dan sesak napas meskipun penderita hanya melakukan aktifitas ringan. Biasanya terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernapasan untuk sementara waktu (tidur apnea) pada siang hari sering merasa ngantuk.
3) Pertumbuhan tulangnya lebih cepat dan matang. Anak yang obesitas relatif tinggi pada masa remaja awal, tetapi pertumbuhan memanjang selesai lebih cepat. Sehingga akhirnya mempunyai tinggi badan yang lebih pendek dari seusianya.
4) Terdapat timbunan lemak pada daerah payudara adipositas (buah dada seorang berkembang) yang biasanya terjadi pada anak laki-laki
5) Penis pada anak laki-laki terlihat kecil karena sebagian organ tersebut tersembunyi dalam jaringan lemak pubis
6) Bentuk muka anak tidak proporsional, hidung dan mulut terlihat lebih kecil, double chin (dagu ganda)
7) Paha dan lengan atas besar, jari-jari terlihat kecil karena sebagian organ tersebut tersembunyi dalam jaringan lemak pubis
8) Perut menggantung dan disertai strie
D. Etiologi
Menurut Dr. Arisman (2008), obesitas merupakan dampak ketidakseimbangan energi asupan jauh melampaui keluaran energi dalam jangka waktu tertentu. Banyak sekali faktor yang menunjang kelebihan ini. Namun, dapat disederhanakan menjadi dua hal, yaitu terlalu banyak makan, dan kurangnya aktifitas atau bergerak. Diet kini makin terbukti sebagai kontributor utama obesitas pada khususnya dan gangguan kesehatan menahun pada umumnya
Faktor penyebab terjadinya obesitas antara lain (Atikah Proverawati, 2016) :
1. Faktor genetik
Obesitas cenderung untuk diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab genetik. Tetapi anggota keluarga tidak hanya berbagi gen, tetapi juga makanan dan kebiasaan gaya hidup, yang bisa mendorong terjadinya obesitas.
2. Faktor lingkungan
Yang termasuk lingkungan dalam hal ini adalah perilaku atau pola gaya hidup, misalnya apa yang dimakan dan berapa kali seseorang makan, serta bagaimana aktivitas setiap hari.
3. Faktor psikososial
Apa yang ada dalam pikiran seseorang dapat mempengaruhi kebiasaan makannya. Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan makan.
4. Faktor kesehatan
Ada beberapa penyakit yang dapat mengakibatkan terjadinya obesitas, antara lain, hipotiroidisme, sindroma chusing, sindroma preder-willi, dll.
5. Faktor perkembangan
Penderita obesitas, terutama yang menjadi gemuk pada anak-anak, dapat memiliki sel lemak sampai lima kali lebioh banyak dibandingkan dengan orang dengan berat badan normal. Jumlah sel-sel lemak tidak dapat dikurangi, oleh karena itu penurunan berat badan hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah lemak dalam setiap sel.
6. Aktifitas fisik
Seseorang yang hidup kurang aktif atau tidak melakukan aktifitas fisik yang seimbang dan mengkonsumsi makanan yang tinggi lemak, akan cenderung mengalami obesitas.
E. Komplikasi
Menurut Reilly JJ. “Obesity in childhood and adolescence: evidence based clinical and publical health perspectives” :
a. Gangguan psikologik
b. Resiko penyakit kardiovaskular
c. Asma
d. Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)
e. Inflamasi kronik
f. Diabetes tipe 1&2
g. Kelainan ortopedik
F. Patofisiologi
Terjadi obesitas menurut jumlah sel lemak adalah sebagai berikut :
1. Jumlah sel lemak normal, tetapi terjadi hipertrofi / pembesaran.
2. Jumlah sel lemak meningkat / hiperplasi dan terjadi hipertrofi.
Obesitas yang terjadi pada masa anak, selain hiperplasi juga disebabkan oleh hipertrofi, sedangkan obesitas yang terjadi setelah masa dewasa pada umumnya hanya terjadi karena hipertrofi sel lemak. Obesitas pada anak terjadi kalau asupan kalori berlebihan, terutama pada tahun pertama kehidupan. Rangsangan untuk meningkatkan jumlah sel terus berlanjut sampai dewasa. Setelah itu, hanya terjadi pembesaran sel saja, sehingga jika terjadi penurunan BB setelah masa dewasa, sebabnya bukan jumlah sel lemaknya berkurang melainkan besar sel yang berkurang. Pada penderita obesitas juga terjadi resisten terhadap hormone insulin sehingga kadar insulin di dalam peredaran darah akan meningkatkan pembentukan jaringan lemak.
G. Pathway





H. Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan obesitas pada anak hanya menghambat laju kenaikan berat badan yang pesat dan tidak boleh dilakukan diet terlalu ketat. Pada prinsipnya, pengobatan anak obesitas adalah sebagai berikut :
1. Memperbaiki faktor penyabab.
2. Memberikan diet rendah kalori yang seimbang untuk menghambat kenaikan berat badan.
3. Menganjurkan penderita untuk berolahraga secara teratur atau anak bermain teratur.
Cara pengaturan dietnya adalah sebagai berikut :
1. Pada bayi yang mengalami obesitas
Tujuan terapi bukan untuk menurunkan berat badannya seperti pada obesitas dewasa, melainkan memperlambat kecepatan kenaikan berat badannya. Bayi diberikan diet sesuai dengan kebutuhan normal untuk pertumbuhannya, yaitu 110kkal/kg BB/hari untuk bayi kurang dari 6 bulan dan 90kkal/kg BB/hari untuk bayi lebih dari 6 bulan. Jumlah susu botol harus dikurangi dengan cara diseling dengan air tawar. Tidak dianjurkan pemberian susu yang diencerkan danm susu rendah/tanpa lemak. Disamping itu, kita anjurkan pada ibunya agar anak dibiarkan beraktivitas. ASI teruskan sampai 2 tahun.
2. Pada anak pra sekolah yang mengalami obesitas
Kenaikan berat badan harus diperlambat, dengan memberikan diet seimbang 60 kkal/kg BB/hari, atau bisa juga memberikan makanan dari makanan keluarga dengan porsi kecil dan menghindari makanan yang mengandung kalori tinggi. Selain itu, kita harus mendoong anak untuk melakukan aktivitas fisik.
Sebagai ringkasan, strategi control berat badan pada anak obesitas adalah :
1. Kontrol lingkungan anak.
2. Pantau perilaku anak.
3. Aktivitas fisik ditingkatkan.
4. Medifikasi die, conto dengan “traffic ligbt diet”.
5. Tentukan tujuan berat badan.
6. Berikan reward terhadap perilaku perubahan yang berhasil.
7. Pemecahan masalah.
8. Keluarga.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
OBESITAS PADA ANAK
1. Pengkajian
Tujuan dari pengkajian atau anamnesa merupakan kumpulan informasi subyektif yang diperoleh dari apa yang dipaparkan oleh pasien terkait dengan masalah kesehatan yang menyebabkan pasien melakukan kunjungan ke pelayanan kesehatan (Niman, 2013)
A. Identitas Pasien
Identitas klien berupa Nama, umur, jenis kelamin, agama, suku/bangsa, pendidikan, pendapatan, alamat, dan nomor register.
B. Pengkajian Riwayat Keperawatan
a) Riwayat Kesehatan sekarang
keluhan yang dirasakan pasien saat ini
b) Riwayat Kesehatan masa lalu
kaji apakah ada keluarga dari pasien yang pernah menderita obesitas
c) Riwayat kesehatan keluarga
kaji apakah ada ada di antara keluarga yang mengalami penyakit serupa atau memicu terjadinya obesitas
a. Pola Fungsi kesehatan
a) Aktivitas istirahat
Kelemahan dan cenderung mengantuk, ketidakmampuan / kurang keinginan untuk beraktifitas.
b) Sirkulasi
Pola hidup mempengaruhi pilihan makan, dengan makan akan dapat menghilangkan perasaan tidak senang : frustasi
c) Makanan / cairan
Jumlah makanan maupun cairan yang dikonsumsi setiap hari serta jumlah intake makanan yang masuk berlebihan
d) Kenyamanan
Pasien obesitas akan merasakan ketidaknyamanan berupa nyeri dalam menopang berat badan atau tulang belakang serta adanya kondisi sesak
e) Pernafasan
Pasien obesitas biasanya mengalami dipsnea dan sesak nafas
f) Seksualitas
Pasien dengan obesitas pada pasien dewasa biasanya mengalami gangguan menstruasi dan amenouria
C. Pemerikasaan fisik
a. Keadaan Umum
1. Berat badan 20 lebih dari berat badan ideal (Camdem, 2009)
2. Pengkajian BMI sebagai panduan menentukan tingkat obsesitas (Sinka, 2001)
Perhitungan BMI dapat menggunakan hitungan hright aquuered (kg/m2). Jika menggunakan unit konvensional, BMI dihitung dengan (Lb/inch2) x 703.
Nilai BMI antara 25-29,9 disebut dengan kelebihan BB
Nilai BMI antara 30-34,9 disebut obesitas tingkat I
Nilai BMI antara 35-39,9 disebut obesitas tingkat II
Nilai BMI >40 disebut obesitas berat
b. Pemeriksaan Fisik
1. Sistem kardiovaskuler
Untuk mengetahui tanda-tanda vital, ada tidaknya distensi vena jugularis, pucat, edema, dan kelainan bunyi jantung.
2. Sistem respirasi
untuk mengetahui ada tidaknya gangguan kesulitan napas biasanya pada beberapa pasien dengan obesitas adanya sesak nafas
3. Sistem hematologi
Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi dan pendarahan, sepertimimisan.
4. Sistem urogenital
Ada tidaknya ketegangan kandung kemih dan keluhan sakit pinggang.
5. Sistem muskuloskeletal
Untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan dalam pergerakkan, sakit pada tulang, sendi dan terdapat fraktur atau tidak.
6. Sistem kekebalan tubuh
Untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening
7. Tanda pemeriksaan lainnya pada pasien obesitas yang dapat ditemukan, meliputi nafas pendek, terlihat adanya penumpukan lemak pada seluruh tubuh.
D. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan metabolik/endokrin dapat menyatakan tak normal, misal: hipotiroidisme, hipopituitarisme, hipogonadisme, sindrom cushing (peningkatan kadar insulin). Ini juga diduga bahwa penyebab gangguan ini dapat menimbulkan neuroendokrin abnormal dalam hipotalamus yang mengakibatkan berbagai gangguan kimia.
2.Diagnosa Keperawatan
Diagnosis keperawatan yang umumnya pada pasien dengan obesitas pada saat dilakukan asuhan keperawatan diruang rawat inap adalah :
1. Ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh b/d ketidak seimbangan antara intake kalori dan pengeluaran tenaga, akumulasi lemak tubuh dan obesitas.
2. Resiko ketidakadekuatan program pengobatan b/d salah persepsi, sumber informasi, penurunan motivasi.
3. Resiko pola nafas tidak efektif b/d ventilasi tidak adekuat, penurunan daya tahan otot-otot pernafasan.
3.Intervensi Keperawatan
Diagnose
|
Tujuan & kriteria hasil
|
Intervensi
|
Ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh b/d ketidak seimbangan antara intake kalori dan pengeluaran tenaga, akumulasi lemak tubuh dan obesitas.
|
Tujuan :
Dalam waktu 3x24 jam setelah diberikan, kelebihan nutrisi pasien terpenuhi
Kriteria :
1. Pasien dapat mempertahankan status nutrisi yang adekuat (4)
2. Pernyataan motivasi kuat untuk memenuhi program pengobatan obesitas (5)
3. Pasien mendapatkan terapi farmakologis dan atau terapi bedah (4)
|
1. Kaji penyebab individu kegemukan.
2. Buat rencana makan dengan pasien.
3. Timbang berat badan secara 2 kali seminggu
4. Konsul dengan ahli diet untuk menentukan kalori/kebutuhan nutrisi untuk penurunan berat badan individu.
|
Resiko ketidakadekuatan program pengobatan b/d salah persepsi, sumber informasi, penurunan motivasi.
|
Tujuan :
Dalam waktu 3x24 jam terjadi peningkatan perilaku.
Kriteria :
1. Pernyataan subjektif pasien untuk ikut serta dalam program penurunan berat badan
2. Pasien dapat menunjukkan perubahan gaya hidup dan mengidentifikasi dukungan personel/masyarakat yang dapat membantu
|
1. Kaji tingkat pengetahuan, persepsi pasien tentang program penurunan berat badan.
2. Dorong pasien untuk menyadari bahwa kebiasaan terlalu banyak makan bisa mengkontribusi peningkatan obesitas.
3. Anjurkan melakukan aktivitas latihan fisik.
4. Lakukan strategi modifikasi perilaku.
5. Berikan dukungan positif apabila di dapatkan indikasi yang baik.
6. Beri pendidikan lanjutan perawatan rumah.
|
4..Impementasi
Pada tahap pelaksanaan ini, fase pelaksanaan terdiri dari berbagai kegiatan yaitu:
1. Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan konsulidasi
2. Keterampilan interpersonal, intelektual, tehnical, dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat
3. Keamanan fisik dan psikologia dilindungi
4. Dokumentasi intervensi dan respon klien
( Budi Anna keliat, SKP, th 1994, hal 13)
1. Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan konsulidasi
2. Keterampilan interpersonal, intelektual, tehnical, dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat
3. Keamanan fisik dan psikologia dilindungi
4. Dokumentasi intervensi dan respon klien
( Budi Anna keliat, SKP, th 1994, hal 13)
Implementasi
Diagnosa keperawatan 1 :
1. Melakukan pengkajian pada orangtua klien unutk mengetahui penyebab klien obesitas
2. Melakukan kolaborasi dengan ahli gizi dan dokter pengaturan diit bagi klien
3. Melakukan monitor berat badan tiap 2 minggu sekali
4. Membuat jadwal atau rencana pengaturan makanan klien
Diagnosa Keperawatan 2 :
1. melakukan pengkajian mengenai pengetahuan serta persepsi tentang program penurunan berat badan pada keluarga klien
2. memberikan dorongan agar klien termotivasi untuk mengonsumsi makanan yang sehat
3. memberikan edukasi agar klien melakukan aktivitas latihan fisik, seperti olahraga secara rutin
5.Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan. Semua tahap proses keperawatan (Diagnosa, tujuan untervensi) harus di evaluasi, dengan melibatkan klien, perawatan dan anggota tim kesehatan lainnya dan bertujuan untuk menilai apakah tujuan dalam perencanaan keperawatan tercapai atau tidak untuk melakukan perkajian ulang jika tindakan belum hasil.
Ada tiga alternatif yang dipakai perawat dalam menilai suatu tindakan berhasil atau tidak dan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan rencana yang ditentukan, adapu alternatif tersebut adalah :
1. Tujuan tercapai
2. Tujuan tercapai sebagian
3. Tujuan tidak tercapai
(Budi Anna Keliat, SKP, th 1994, hal 69
Ada tiga alternatif yang dipakai perawat dalam menilai suatu tindakan berhasil atau tidak dan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan rencana yang ditentukan, adapu alternatif tersebut adalah :
1. Tujuan tercapai
2. Tujuan tercapai sebagian
3. Tujuan tidak tercapai
(Budi Anna Keliat, SKP, th 1994, hal 69
Evaluasi keperawatan yang diharapkan ada pada pasien dengan obesitas setelah dilakukan asuhan keperawatan , seperti :
1. Kebutuhan nutrisi dapat diberikan sesuai dengan tingkat kebutuhan individual.
2. Pengetahuan pasien terpenuhi dan pasien berkeinginan untuk mengikuti program penurunan berat badan.
DAFTAR PUSTAKA
Dwi Nurbandiyah, Wiwit. 2017. Asuhan Keperawatan Gangguan Nutrisi.
Jakarta : Deepublish
Saputri E.L. dan Ahmad Syauqy. 2014. Hubungan Riwayat Pemberian ASI Eksklusif Dengan Kejadian Obesitas Pada Anak. Journal of Nutrition College. 3(1): 1-3
Agoes, D, & Maria, P. 2003. Mencegah Dan Mengatasi Kegemukan Pada Balita. Jakarta : Puspa Swara
Hardinsyah dan I Dewa N.S. 2017. Ilmu Gizi. Jakarta : EGC.
Komentar
Posting Komentar